Mohon Maaf Kepada Semua Pihak Apabila Ada Kesamaan Dalam Penulisan Ataupun Isi Lainnya, "Kritik & Saran" Kami Tunggu, Terima Kasih...!
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2012

SEJARAH MAJAPAHIT

Setelah raja S’ri Kerta-negara gugur, kerajaan Singhasa-ri berada di bawah kekuasaan raja Jayakatwang dari Kadiri. Salah satu keturunan penguasa Singhasa-ri, yaitu Raden Wijaya, kemudian berusaha merebut kembali kekuasaan nenek moyangnya. Ia adalah keturunan Ken Angrok, raja Singha-sa-ri pertama dan anak dari Dyah Le(mbu Tal. Ia juga dikenal dengan nama lain, yaitu Nararyya Sanggramawijaya. Menurut sumber sejarah, Raden Wijaya sebenarnya adalah mantu Ke(rtana-gara yang masih terhitung keponakan. Kitab Pararaton menyebutkan bahwa ia mengawini dua anak sang raja sekaligus, tetapi kitab Na-garakerta-gama menyebutkan bukannya dua melainkan keempat anak perempuan Ke(rtana-gara dinikahinya semua. Pada waktu Jayakatwang menyerang Singhasa-ri, Raden Wijaya diperintahkan untuk mempertahankan ibukota di arah utara. Kekalahan yang diderita Singhasa-ri menyebabkan Raden Wijaya mencari perlindungan ke sebuah desa bernama Kudadu, lelah dikejar-kejar musuh dengan sisa pasukan tinggal duabelas orang. Berkat pertolongan Kepala Desa Kudadu, rombongan Raden Wijaya dapat menyeberang laut ke Madura dan di sana memperoleh perlindungan dari Aryya Wiraraja, seorang bupati di pulau ini. Berkat bantuan Aryya Wiraraja, Raden Wijaya kemudian dapat kembali ke Jawa dan diterima oleh raja Jayakatwang. Tidak lama kemudian ia diberi sebuah daerah di hutan Te(rik untuk dibuka menjadi desa, dengan dalih untuk mengantisipasi serangan musuh dari arah utara sungai Brantas. Berkat bantuan Aryya Wiraraja ia kemudian mendirikan desa baru yang diberi nama Majapahit. Di desa inilah Raden Wijaya kemudian memimpin dan menghimpun kekuatan, khususnya rakyat yang loyal terhadap almarhum Kertanegara yang berasal dari daerah Daha dan Tumapel. Aryya Wiraraja sendiri menyiapkan pasukannya di Madura untuk membantu Raden Wijaya bila saatnya diperlukan. Rupaya ia pun kurang menyukai raja Jayakatwang.
Tidak terduga sebelumnya bahwa pada tahun 1293 Jawa kedatangan pasukan dari Cina yang diutus oleh Kubhilai Khan untuk menghukum Singhasa-ri atas penghinaan yang pernah diterima utusannya pada tahun 1289. Pasukan berjumlah besar ini setelah berhenti di Pulau Belitung untuk beberapa bulan dan kemudian memasuki Jawa melalui sungai Brantas langsung menuju ke Daha. Kedatangan ini diketahui oleh Raden Wijaya, ia meminta izin untuk bergabung dengan pasukan Cina yang diterima dengan sukacita. Serbuan ke Daha dilakukan dari darat maupun sungai yang berjalan sengit sepanjang pagi hingga siang hari. Gabungan pasukan Cina dan Raden Wijaya berhasil membinasakan 5.000 tentara Daha. Dengan kekuatan yang tinggal setengah, Jayakatwang mundur untuk berlindung di dalam benteng. Sore hari, menyadari bahwa ia tidak mungkin mempertahankan lagi Daha, Jayakatwang keluar dari benteng dan menyerahkan diri untuk kemudian ditawan oleh pasukan Cina.
Dengan dikawal dua perwira dan 200 pasukan Cina, Raden Wijaya minta izin kembali ke Majapahit untuk menyiapkan upeti bagi kaisar Khubilai Khan. Namun dengan menggunakan tipu muslihat kedua perwira dan para pengawalnya berhasil dibinasakan oleh Raden Wijaya. Bahkan ia berbalik memimpin pasukan Majapahit menyerbu pasukan Cina yang masih tersisa yang tidak menyadari bahwa Raden Wijaya akan bertindak demikian. Tiga ribu anggota pasukan kerajaan Yuan dari Cina ini dapat dibinasakan oleh pasukan Majapahit, selebihnya melarikan dari keluar Jawa dengan meninggalkan banyak korban. Akhirnya cita-cita Raden Wijaya untuk menjatuhkan Daha dan membalas sakit hatinya kepada Jayakatwang dapat diwujudkan dengan memanfaatkan tentara asing. Ia kemudian memproklamasikan berdirinya sebuah kerajaan baru yang dinamakan Majapahit. Pada tahun 1215 Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar S’ri Ke(rtara-jasa Jayawardhana. Keempat anak Kertanegara dijadikan permaisuri dengan gelar S’ri Parames’wari Dyah Dewi Tribhu-wanes’wari, S’ri Maha-dewi Dyah Dewi Narendraduhita-, S’ri Jayendradewi Dyah Dewi Prajnya-paramita-, dan S’ri Ra-jendradewi Dyah Dewi Gayatri. Dari Tribhu-wanes’wari ia memperoleh seorang anak laki bernama Jayanagara sebagai putera mahkota yang memerintah di Kadiri. Dari Gayatri ia memperoleh dua anak perempuan, Tribhu-wanottunggadewi Jayawisnuwardhani yang berkedudukan di Jiwana (Kahuripan) dan Ra-jadewi Maha-ra-jasa di Daha. Raden Wijaya masih menikah dengan seorang isteri lagi, kali ini berasal dari Jambi di Sumatera bernama Dara Petak dan memiliki anak darinya yang diberi nama Kalage(me(t. Seorang perempuan lain yang juga datang bersama Dara Petak yaitu Dara Jingga, diperisteri oleh kerabat raja bergelar ‘dewa’ dan memiliki anak bernama Tuhan Janaka, yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai Adhityawarman, raja kerajaan Malayu di Sumatera. Kedatangan kedua orang perempuan dari Jambi ini adalah hasil diplomasi persahabatan yaang dilakukan oleh Ke(rtana-gara kepada raja Malayu di Jambi untuk bersama-sama membendung pengaruh Kubhilai Khan. Atas dasar rasa persahabatan inilah raja Malayu, S’rimat Tribhu-wanara-ja Mauliwarmadewa, mengirimkan dua kerabatnya untuk dinikahkan dengan raja Singhasa-ri. Dari catatan sejarah diketahui bahwa Dara Jingga tidak betah tinggal di Majapahit dan akhirnya pulang kembali ke kampung halamannya.
Raden Wijaya wafat pada tahun 1309 digantikan oleh Jayana-gara. Seperti pada masa akhir pemerintahan ayahnya, masa pemerintahan raja Jayana-gara banyak dirongrong oleh pemberontakan orang-orang yang sebelumnya membantu Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit. Perebutan pengaruh dan penghianatan menyebabkan banyak pahlawan yang berjasa besar akhirnya dicap sebagai musuh kerajaan. Pada mulanya Jayana-gara juga terpengaruh oleh hasutan Maha-pati yang menjadi biang keladi perselisihan tersebut, namun kemudian ia menyadari kesalahan ini dan memerintahkan pengawalnya untuk menghukum mati orang kepercayaannya itu. Dalam situasi yang demikian muncul seorang prajurit yang cerdas dan gagah berani bernama Gajah Mada. Ia muncul sebagai tokoh yang berhasil mamadamkan pemberontakan Kuti, padahal kedudukannya pada waktu itu hanya berstatus sebagai pengawal raja (be(ke(l bhayangka-ri). Kemahirannya mengatur siasat dan berdiplomasi dikemudian hari akan membawa Gajah Mada pada posisi yang sangat tinggi di jajaran pemerintahan kerajaan Majapahit, yaitu sebagai Mahamantri kerajaan.
Pada masa Jayana-gara hubungan dengan Cina kembali pulih. Perdagangan antara kedua negara meningkat dan banyak orang Cina yang menetap di Majapahit. Jayana-gara memerintah sekitar 11 tahun, pada tahun 1328 ia dibunuh oleh tabibnya yang bernama Tanca karena berbuat serong dengan isterinya. Tanca kemudian dihukum mati oleh Gajah Mada.
Karena tidak memiliki putera, tampuk pimpinan Majapahit akhirnya diambil alih oleh adik perempuan Jayana-gara bernama Jayawisnuwarddhani, atau dikenal sebagai Bhre Kahuripan sesuai dengan wilayah yang diperintah olehnya sebelum menjadi ratu. Namun pemberontakan di dalam negeri yang terus berlangsung menyebabkan Majapahit selalu dalam keadaan berperang. Salah satunya adalah pemberontakan Sade(ng dan Keta tahun 1331 memunculkan kembali nama Gajah Mada ke permukaan. Keduanya dapat dipadamkan dengan kemenangan mutlak pada pihak Majapahit. Setelah persitiwa ini, Mahapatih Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal, bahwa ia tidak akan amukti palapa sebelum menundukkan daerah-daerah di Nusantara, seperti Gurun (di Kalimantan), Seran (?), Tanjungpura (Kalimantan), Haru (Maluku?), Pahang (Malaysia), Dompo (Sumbawa), Bali, Sunda (Jawa Barat), Palembang (Sumatera), dan Tumasik (Singapura). Untuk membuktikan sumpahnya, pada tahun 1343 Bali berhasil ia ditundukan.
Ratu Jayawisnuwaddhani memerintah cukup lama, 22 tahun sebelum mengundurkan diri dan digantikan oleh anaknya yang bernama Hayam wuruk dari perkawinannya dengan Cakradhara, penguasa wilayah Singha-sari. Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja tahun 1350 dengan gelar S’ri Rajasana-gara. Gajah Mada tetap mengabdi sebagai Patih Hamangkubhu-mi (maha-patih) yang sudah diperolehnya ketika mengabdi kepada ibunda sang raja. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk inilah Majapahit mencapai puncak kebesarannya. Ambisi Gajah Mada untuk menundukkan nusantara mencapai hasilnya di masa ini sehingga pengaruh kekuasaan Majapahit dirasakan sampai ke Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Maluku, hingga Papua. Tetapi Jawa Barat baru dapat ditaklukkan pada tahun 1357 melalui sebuah peperangan yang dikenal dengan peristiwa Bubat, yaitu ketika rencana pernikahan antara Dyah Pitaloka-, puteri raja Pajajaran, dengan Hayam Wuruk berubah menjadi peperangan terbuka di lapangan Bubat, yaitu sebuah lapangan di ibukota kerajaan yang menjadi lokasi perkemahan rombongan kerajaan tersebut. Akibat peperangan itu Dyah Pitaloka- bunuh diri yang menyebabkan perkawinan politik dua kerajaan di Pulau Jawa ini gagal. Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa setelah peristiwa itu Hayam Wuruk menyelenggarakan upacara besar untuk menghormati orang-orang Sunda yang tewas dalam peristiwa tersebut. Perlu dicatat bawa pada waktu yang bersamaan sebenarnya kerajaan Majapahit juga tengah melakukan eskpedisi ke Dompo (Padompo) dipimpin oleh seorang petinggi bernama Nala.
Setelah peristiwa Bubat, Maha-patih Gajah Mada mengundurkan diri dari jabatannya karena usia lanjut, sedangkan Hayam Wuruk akhirnya menikah dengan sepupunya sendiri bernama Pa-duka S’ori, anak dari Bhre We(ngke(r yang masih terhitung bibinya.
Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk kerajaan Majapahit menjadi sebuah kerajaan besar yang kuat, baik di bidang ekonomi maupun politik. Hayam Wuruk memerintahkan pembuatan bendungan-bendungan dan saluran-saluran air untuk kepentingan irigasi dan mengendalikan banjir. Sejumlah pelabuhan sungai pun dibuat untuk memudahkan transportasi dan bongkar muat barang. Empat belas tahun setelah ia memerintah, Maha-patih Gajah Mada meninggal dunia di tahun 1364. Jabatan patih Hamangkubhu-mi tidak terisi selama tiga tahun sebelum akhirnya Gajah Enggon ditunjuk Hayam Wuruk mengisi jabatan itu. Sayangnya tidak banyak informasi tentang Gajah Enggon di dalam prasasti atau pun naskah-naskah masa Majapahit yang dapat mengungkap sepak terjangnya.
Raja Hayam Wuruk wafat tahun 1389. Menantu yang sekaligus merupakan keponakannya sendiri yang bernama Wikramawarddhana naik tahta sebagai raja, justru bukan Kusumawarddhani yang merupakan garis keturunan langsung dari Hayam Wuruk. Ia memerintah selama duabelas tahun sebelum mengundurkan diri sebagai pendeta. Sebelum turun tahta ia menujuk puterinya, Suhita menjadi ratu. Hal ini tidak disetujui oleh Bhre Wirabhu-mi, anak Hayam Wuruk dari seorang selir yang menghendaki tahta itu dari keponakannya. Perebutan kekuasaan ini membuahkan sebuah perang saudara yang dikenal dengan Perang Pare(gre(g. Bhre Wirabhumi yang semula memperoleh kemenanggan akhirnya harus melarikan diri setelah Bhre Tumape(l ikut campur membantu pihak Suhita. Bhre Wirabhu-mi kalah bahkan akhirnya terbunuh oleh Raden Gajah. Perselisihan keluarga ini membawa dendam yang tidak berkesudahan. Beberapa tahun setelah terbunuhnya Bhre Wirabhu-mi kini giliran Raden Gajah yang dihukum mati karena dianggap bersalah membunuh bangsawan tersebut.
Suhita wafat tahun 1477, dan karena tidak mempunyai anak maka kedudukannya digantikan oleh adiknya, Bhre Tumape(l Dyah Ke(rtawijaya. Tidak lama ia memerintah digantikan oleh Bhre Pamotan bergelar S’ri Ra-jasawardhana yang juga hanya tiga tahun memegang tampuk pemerintahan. Bahkan antara tahun 1453-1456 kerajaan Majapahit tidak memiliki seorang raja pun karena pertentangan di dalam keluarga yang semakin meruncing. Situasi sedikit mereda ketika Dyah Su-ryawikrama Giris’awardhana naik tahta. Ia pun tidak lama memegang kendali kerajaan karena setelah itu perebutan kekuasaan kembali berkecambuk. Demikianlah kekuasaan silih berganti beberapa kali dari tahun 1466 sampai menjelang tahun 1500. Berita-berita Cina, Italia, dan Portugis masih menyebutkan nama Majapahit di tahun 1499 tanpa menyebutkan nama rajanya. Semakin meluasnya pengaruh kerajaan kecil Demak di pesisir utara Jawa yang menganut agama Islam, merupakan salah satu penyebab runtuhnya kerajaan Majapahit. Tahun 1522 Majapahit tidak lagi disebut sebagai sebuah kerajaan melainkan hanya sebuah kota. Pemerintahan di Pulau Jawa telah beralih ke Demak di bawah kekuasaan Adipati Unus, anak Raden Patah, pendiri kerajaan Demak yang masih keturunan Bhre Kertabhu-mi. Ia menghancurkan Majapahit karena ingin membalas sakit hati neneknya yang pernah dikalahkan raja Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya. Demikianlah maka pada tahun 1478 hancurlah Majapahit sebagai sebuah kerajaan penguasa nusantara dan berubah satusnya sebagai daerah taklukan raja Demak. Berakhir pula rangkaian penguasaan raja-raja Hindu di Jawa Timur yang dimulai oleh Keng Angrok saat mendirikan kerajaan Singha-sari, digantikan oleh sebuah bentuk kerajaan baru bercorak agama Islam.
Ironisnya, pertikaian keluarga dan dendam yang berkelanjutan menyebabkan ambruknya kerajaan ini, bukan disebabkan oleh serbuan dari bangsa lain yang menduduki Pulau Jawa.
(Disarikan dari Sejarah Nasional Indonesia Jilid II, 1984, halaman 420-445, terbitan PP Balai Pustaka, Jakarta)

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN


MAKALAH

FILSAFAT PENDIDIKAN

Fungsi Pendidikan Dalam Kehidupan Manusia Sebagai Makhluk Biologis




Dosen Pembimbing:
SALAMAH EKA SUSANTI, M.Si






( V - E / UTAMA ) 
Oleh:    Zet Affan


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ZAINUL HASAN
KRAKSAAN - PROBOLINGGO
FAKULTAS TARBIYAH
2009-2010
DAFTAR ISI
Halaman Judul …………………………………………………………….
Kata Pengantar ……………………………………………………………
Daftar Isi ……………………………………………………………………
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................
A.      Latar Belakang Masalah ..................................................
B.      Rumusan Masalah …………………………………………..
C.     Tujuan Penulisan ……………………………………………
D.     Metode Penulisan …………………………………………...
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................
                Fungsi Pendidikan Dalam Kehidupan Manusia Sebagai Makhluk Biologis”.........
BAB III Penutup..................................................................................
A.      Kesimpulan ......................................................................
B.      Saran ...............................................................................
C.     Daftar Pustaka..................................................................


KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Rasa Syukur senantiasa kami haturkan kepada Tuhan dari segala tuhan (Allah) yang telah mengamanatkan kepada kita untuk senantiasa berproses melanjutkan perjuangan pendahulu demi kedamaian dan keadilan. Sholawat serta salam semoga tercurah limpahkan pada sang presiden islam dunia, sang revolusioner sejati nabi Muhammad SAW. berkat kegigihannya kita bisa merasakan suasana zaman yang penuh dengan nuansa perubahan dan tetap dalam dialektika pengetahuan untuk melawan ketidak adilan dan dalam hal ini penulis juga dapat merampungkan makalah ini dengan judul Fungsi Pendidikan Dalam Kehidupan Manusia Sebagai Makhluk Biologis
Selain itu kami mengucapakn ribuan terima kasih kepada yang terhormat dan kami ta’dimi.
1.        KH. Mutawakkil Alallah, SH,. MM. selaku pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, beserta keluarga yang dengan keikhlasan, kelembutan dan kesabarannya yang telah mengajarkan dan membuat kami memahami arti dari sebuah pengabdian.
Selanjutnya jami ucapkan banyak terima kasih kepada yang terhormat dan sangat terpelajar.
2.       Drs. H. M. Su’ud Agaf, SH,. MH. Selaku Rektor Sekolah Tinggi Agama Islam Zainul Hasan yang telah memotivasi kami dengan etos kerja dan disiplin ilmu yang baik.
3.       Salamah Eka Susanti, M.Si. selaku dosen pembimbing kami, yang dengan sabar telah mendidik dan mengasah otak kami.
4.       Kepada yang membawa kami menuju ilmu pengetahuan dari sejak kecil hingga saat ini, yaitu Ayahanda dan Ibunda tercinta.
5.       Dan tak lupa pula kami mengucapkan banyak terima kasih kepada sahabat-sahabat kami, yang telah menciptakan tawa dan emosi yang membuat penulis menjadi orang yang dapat memahami apa arti dari sebuah kehidupan bersama orang lain dan juga yang selama ini telah membantu kami untuk menyelesaikan makalah ini dan yang selalu memberi kami imajinasi dan pandangan ke depan untuk menuju kesuksesan yang lebih baik.
Demikian dari kami, dengan kerendahan bahasa dan hati penulis menyadari bahwa untuk mencapai kesempurnaan itu melalui banyak proses, dengan satu harapan yang sederhana, semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca dan penulis, dan semoga tugas makalah ini dapat memperkaya referensi keilmuan dan khasanah pendidikan khususnya mahasiswa – mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Zainul Hasan Genggong. Amin...


Mahasiswa…!

“Bila dirimu bangga dengan bangku kuliah yang kau duduki sampai senyummu terbahak, nyaring terdengar diantara sahabat-sahabatmu, “menolehlah…!!! Ternyata di belakangmu masih menyisakan luka dan tangis yang tak mampu negeri ini menghapusnya”.


Wallahulmuwafieq ila aqwamittharieq
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Kraksaan, 08 Januari 2010


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah
Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengan sesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral, intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yang ditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Allah Yang Maha Pencipta sebagai tujuan akhir.
Ahmad D. Marilba mengatakan bahwa, “Pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap si terdidik dalam hal perkembangan jasmani dan rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
Dalam tujuan Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan ditujukan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas yang dideskripsikan dengan jelas dalam UU No. 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani, berjiwa patriotik, cinta tanah air, mempunyai semangat kebangsaan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa, menghargai jasa pahlawan, dan berorientasi pada masa depan.
B. Rumusan Masalah
Setelah melihat beberapa pernyataan di atas, sehingga muncul di benak penulis untuk merumuskan masalah sebagai berikut: Apa itu Pendidikan, dan Hubungannya dengan Manusia Sebagai Makhluk Biologis.
C. Tujuan Penulisan
Tujuan kami menulis makalah ini yang berjudul “Fungsi Pendidikan Dalam Kehidupan Manusia Sebagai Makhluk Biologis” adalah agar supaya dapat memahami Sub Bahasan Filsafat ilmu Pendidikan ini dapat didekati dari permasalahan pokok tentang apa itu Filsafat, Ilmu dan Pendidikan.


D. Metode Penulisan
Metode penulisan makalah yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode deduktif yaitu penulis menarik kesimpulan dari pernyataan unun menuju pernyataan khusus.


BAB II
PEMBAHASAN
 Fungsi Pendidikan Dalam Kehidupan Manusia Sebagai Makhluk Biologis

Pendidikan dalam gerak sejarahnya selalu mengarah pada  progresivitas dan transformativitas kehidupan manusia, sehingga eksistensinya pun mesti pula memuat segala sesuatu yang dibutuhkan manusia, tidak saja yang berdimensi pragmatis, tetapi juga idealis; tidak saja bercorakkan yang profan, tetapi juga yang sakral; tidak saja sarat dengan muatan pengetahuan, tetapi juga moral;  untuk kepentingan individu maupun sosial yang mencakup kepentingan kehidupan  sekarang ataupun mendatang.
Esensi  pendidikan sebagai pengupayaan ke arah perubahan-perubahan perilaku yang lebih “baik”, menircayakan adanya perubahan-perubahan sebagaimana yang diinginkan, sesuai dengan  tujuan-tujuan yang telah digariskan oleh  suatu lembaga pendidikan sekolah, sebagai bukti nyata adanya aktivitas pendidikan itu sendiri. Perubahan yang dimaksud tentukan bernuansakan progresivitas humanitas, baik konteks hubungan dirinya dengan masyarakat, alam maupun Tuhannya.
Pendidikan sekolah sebagai lembaga yang ditugaskan untuk pengembangan humanitas manusia, pada dasarnya juga mengemban tugas pembinaan biologis, karena memang manusia diciptakan Tuhan untuk biologis, sehingga dalam pendidikan, nilai-nilai biologis mestilah menjadi bagian yang integral dalam setiap usaha kependidikannya. Secara struktural-formal tidak mesti hanya sekedar tercantum dalam orientasi dan tujuan  pendidikan semata, tetapi  hendaklah juga terjalin kelindan dalam setiap  denyut nadi aktivitas kependidikan itu sendiri.
Adanya indikasi keterasingan biologis dan nilai-nilai humanitas dalam lembaga kependidikan sekolah yang ditandai dengan orientasi keilmuan yang semata-mata untuk ilmu-an sich dan pemisahan yang tajam antara ilmu pengetahuan dan moral merupakan sesuatu indikasi yang menunjukkan telah bergesernya ideologi dan biologis pendidikan kepada sesuatu yang bukan esensinya. Melalui analisis filosofis dengan gaya penalaran deduktif-induktif dan induktif-deduktif, tulisan ini berupaya mencarikan solusi atas persoalan apa dan bagaimana bentuk dan corak biologis kependidikan yang difokuskan pada permasalahan, idealitas  manusia dan kemanusiaan serta hal-hal yang berkenaan dengan masalah esensi pendidikan dan pemanusiaan.
Identitas Manusia Karena upaya kependidikan tidak lain adalah suatu upaya pemanusiaan, maka untuk melihat biologis kependidikan itu mesti diawali dengan mendudukkan makna dan orientasi humanitas agar segala yang akan ditempuh dalam kegiatan kependidikan tidak lari dari esensinya.
Kata  insan dikaitkan dengan aspek utama kemanusiaan, yaitu kemampuan penalaran yang dengan dayanya ini, manusia mampu mengamati, mencermati, menangkap, mengidentifikasi dan menganalisis berbagai kasus dan kondisi dengan cara menghubungkan fakta-fakta dalam berbagai realitas menuju  pengambilan suatu kesimpulan yang akan menjadi pelajaran dan hikmah yang berguna bagi kehidupannya.
Jika dilihat pula dari asal katanya al-uns atau anisa yang berarti jinak memberikan isyarat, bahwa manusia memiliki potensi biologis untuk mudah beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan berbagai lingkungan dalam realitas kehidupannya.  Manusia di sini dilihat sebagai makhluk biologis yang ditunjukkan dengan sikap ingin hidup berkelompok dan bermasyarakat, menata kehidupan dalam suatu komunitas, di samping juga ingin bersahabat dengan orang lain di luar diri dan kelompoknya serta berlaku ramah dengan lingkungan dan alam yang mengelilinginya.
Manusia  dalam konteks ini, adalah makhluk yang memiliki potensi cinta kedamaian dan keharmonisan dalam hidupnya. Oleh karena itu, perselisihan dan pertengkaran di antara manusia adalah semacam penyimpangan natural kemanusiaannya dan atau karena adanya penekanan potensial humanitas lainnya yang saling mendesak, sehingga sifat potensial ini tidak teraktualisasikan dalam tindakan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan adalah proses penyesuian diri secara timbal balik antara manusia dengan alam, dengan sesama manusia atau juga pengembangan dan penyempurnaan secara teratur dari semua potensi moral, intelektual, dan jasmaniah manusia oleh dan untuk kepentingan pribadi dirinya dan masyarakat yang ditujukan untuk kepentingan tersebut dalam hubungannya dengan Sang Maha Pencipta sebagai tujuan akhir.
Pdndidikan mutlak harus ada pada manusia, karena pendidikan merupakan hakikat hidup dan kehidupan. Pendidikan berguna untuk membina kepribadian manusia. Dengan pendidikan maka terbentuklah pribadi yang baik sehingga di dalam pergaulan dengan manusia lain, individu dapat hidup dengan tenang. Pendidikan membantu agar tiap individu mampu menjadi anggota kesatuan sosial manusia tanpa kehilangan pribadinya masing-masing.
Pada hakikatnya pendidikan menjadi tanggung jawab bersama, yakni keluarga, masyarakat, dan sekolah/ lembaga pendidikan. Keluarga sebagai lembaga pertama dan utama pendidikan, masyarakat sebagai tempat berkembangnya pendidikan, dan sekolah sebagai lembaga formal dalam pendidikan. Pendidikan keluarga sebagai peletak dasar pembentukan kepribadian anak.


B. Saran
Sehubungan dengan adanya makalah fungsi pendidikan dalam kehidupan manusia sebagai makhluk biologis, maka diberikan saran yang berkaitan dengan Identitas Manusia Karena upaya kependidikan tidak lain adalah suatu upaya pemanusiaan, maka untuk melihat biologis kependidikan itu mesti diawali dengan mendudukkan makna dan orientasi humanitas agar segala yang akan ditempuh dalam kegiatan kependidikan tidak lari dari esensinya.
Kami juga menyadari bahwa makalah ini baik dari segi susunannya, tulisannya dan atau isinya tidak terlepas dari kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan dan kami tunggu dalam upaya penyempurnaan agar makalah ini menjadi lebih baik.


Daftar Pustaka / Rujunkan
  1. Abul `Ainain, `Ali Khalil, Falsafah al-Tarbiyat al-Islamiyah fi nal-Qur`an al-Kar?m, Dar al-Fikr al-`Arabiy, 1980.
  2. Al-Abrasyi, Athiyah, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1987.
  3. Al-Syaibani, Omar Muhammad al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, Terj. Hasan Langgulung, Bulan Bintang, Jakarta, 1979.
  4. Langgulung, Hasan, Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisis Psikologi dan Pendidikan, al-Husn Zikra, Jakarta, 1995.
  5. Muhammad, Abu Bakar, Membangun Manusia Seutuhnya Menurut al-Qur`an, al-Ikhlas, Surabaya, 1987.
  6. Dt. Mangkudum, N.A.Rsyid, Manusia dalam Konsep Islam, Karya Indah, Jakarta, 1983.
  7. Al-`Aqad, Abbas Mahmud, al-Insan Filsafat al-Qur`an al-Karim, Dar al-Qalam, Kairo, 1973.
  8. Al-Quran dan terjemahnya, 1977. Jakarta: PT. Bumi Restu.